Menjadi Hujan | Suaracerita

Dengan nama Allah yg Maha Pemurah lg Maha Mengasihani

Lagi 2 minggu, selesai Spring Semester. Selesai tahun pertama undergrads. Tinggal nak final exam, dan sama-sama kita tunggu sama ada semester depan kita masih di sini. Eheh. Masih banyak tanggungjawab yg tak terlaksana. Masih banyak hak yg lain yg belum tertunai. Moga dipermudahkan, diberi kekuatan, diberi rezeki untuk tsabat, sebab tak sanggup berdepan denganNya tanpa bekalan, tanpa saham yg menguntungkan. *sigh*

******************************************************************



Suara : @dokterfina
Cerita : @kurniawangunadi
Backsound : Maksim - Still water

© Medan, 22 Februari 2015

MENJADI HUJAN

Orang-orang dewasa itu aneh. Mereka bilang menyukai hujan, tapi selalu berlindung di balik payung, berlindung di bawah atap. Bahkan beberapa dari mereka memaki karena hujan membuat baju mereka basah.

Mereka tidak benar-benar menyukai, hanya mulutnya saja, tindakannya tidak. Mereka hanya mencari sensasi atau sedang menjual romantisme. Nyatanya, mereka menyesali hujan yang tak kunjung reda, mendinginkan udara sekitar, dan membuat jemurannya tak kunjung kering.

Sayang cintanya hanya sebatas kata, sayang katanya hanya sebatas kalimat status di media sosialnya. Hanya menjadi foto untuk mendukung kesenduannya.

Aku rasa, kita tidak akan mengerti hujan kecuali menjadi hujan itu sendiri. Bagaimana bila sesekali kita mendengar kata orang bahwa mereka menyukai kita padahal dibelakang itu semua mereka tidak demikian.

Manusia banyak yang seperti itu. Manusia telah terlatih untuk berpura-pura di hadapan orang lain. Memanipulasi sikapnya dan menyaring kata-katanya menjadi manis. Meski tidak dalam hati dan pikiran.

Dan kita akan belajar menjadi hujan. Bahwa ia akan turun dan ia tidak peduli dengan banyak orang yang menyesali kehadirannya. Hujan akan tetap turun untuk ia yang membutuhkannya, untuk orang-orang yang merindukan kedatangannya. Untuk tanaman dan hewan yang membutuhkannya.

Tidak perlu menghabiskan pikiran dan hati kita untuk memikirkan orang-orang yang tidak menyukai kita. Lebih baik kita curahkan hati dan pikiran kita untuk orang-orang yang menghargai keberadaan kita, untuk orang-orang yang mencintai kita dan menunggu kita.

Meski jumlahnya (mungkin) tidak banyak, tapi itu akan membuat hidupmu jauh lebih bahagia. Dan kamu tidak perlu bersusah payah untuk membuat hidupmu bahagia. Karena sungguh, akan selalu ada orang yang tidak menyukaimu. Dan kamu tidak perlu memikirkan yang demikian.

Hujan akan tetap turun meski ia dibenci, karena ia datang bukan untuk mereka. Ia datang untuk orang-orang yang merindukan dan mencintainya.

Hidup kita seperti demikian. Hari ini, aku akan menjadi hujan. Biar aku jatuh dihatimu dan kamu tidak bisa menghindarinya :)




Mana Mungkin



Bagaimana mungkin bisa itsar
Jika hanyak keburukan yg memenuhi prasangka

Bagaimana mungkin bisa itsar
Jika kesesakan yg memenuhi dada

Yang kau endah hanya apa yg kau rasa.

Mana mungkin.


Buat Taik

Dengan nama Allah yg Maha Pemurah lg Maha Mengasihani

Masha Allah, oh my, dah ber-anai-anai dah blog nie. Eheh.



Ini kisahnya. Ini watak utamanya. Mayyah.

Semalam ada orang Whatsapp, panas dengan Mayyah nie haa. Katanya Mayyah buat hal.

Ber*k.
Atas lantai.
Depan pintu bilik.

Mayyah buat taik.

Menurut sumber, sejak 13 November 2014 lagi Mayyah di-ajak masuk rumah, di-bela, di-usap, di-beri makan Whiskas, di-tatang bagai minyak yg penuh oleh ahli rumah tersebut. Dan tak pernah sekali pun Mayyah bertindak luar jangkaan menyakitkan hati penghuni rumah, apatah lagi buat taik dalam rumah tersebut.

Until, yesterday, Mayyah buat taik.

Apa lagi, meradang la penghuni rumah. Nasib baik masih sabar di atas sabar dan masih punya hati perut untuk tak halau Mayyah keluar dari rumah. Dan masih punya hati perut untuk tuang Whiskas dalam bekas makanan Mayyah walaupun busuk taik semalam belum hilang di hati. EH.


**********************************************

Pengajarannya, kita pun jangan buat taik, macam Mayyah.

Dengan ar-Rahman dan ar-Rahim Nya, Dia izin kita duduk-senang-lenang-makan-mee-kari-walaupun-elaun-tak-masuk-lagi atas muka Bumi nie. Dengan ar-Rahman dan ar-Rahim Nya, Dia bagi kita Mama Papa yang sanggup drive utara selatan sebab kesian kita ngengada tak sanggup naik bas. Dengan ar-Rahman dan ar-Rahim Nya, Dia bagi kita bangun pagi tadi, sahur dan qiyam supaya kita lebih dekat denganNya walaupun sebelum-sebelum ni, sepanjang baligh entah berapa kali Subuh gajah. Dengan ar-Rahman dan ar-Rahim Nya, kita merasakan indahnya dan bahagianya belajar di universriti Kerajaan Bersatu pertama di Malaysia. Dengan ar-Rahman dan ar-Rahim Nya, kita bangun pagi nampak Hanis, Azmina, Sari, Nadhirah, Farahin, Irdina dan bahkan gambar Izzat dan Farzana juga untuk menceriakan hari kita.

Subhanallah.

Dengan ar-Rahman dan ar-Rahim Nya, jantung kita berdegup 72 kali seminit. Bahkan lebih lagi kalau berlari kejar bas atau berdebar ternampak kerash (eh eh istighfar sisturr).

Dengan segala nikmat yang diberikanNya, wajarkah kita buat taik dan berlagak selamba?

Kita bukan makan Whiskers atau minum air lopak sahaja. Allah rezekikan kita dengan Mee Kari Old Town, Tutti Frutti dan Roti Gardenia! Despite all the hardships; taufan banjir atau cirit birit food poisoining, itu belum dikira sebagai bayaran untuk degupan jantung 72 kali seminit pun. Tambah pulak kalau asyik menyumpah seranah tatkala susah. Pfft.

Jadi, jangan buat taik ye?

Bukak Quran kita tengok semak balik apa yang patut kita buat apa yg patut kita buang jauh-jauh. Selagi Dia tak halau kita dari dunia straight forward masuk neraka, selagi tu kita masih punya peluang bersihkan yaik eh typo (malas nak padam), taik yang dah terbuat selama nie. Bersihkan dan ambil hati Dia. Dah lama sangat kita hidup asyik fikir tentang diri sendiri, atau baik sikit fikir tentang orang sekeliling, mungkin ini masanya fikir tentang mati dan kenapa Dia wujudkan kita di Bumi.

Kadang-kadang bagus jugak belajar dari Mayyah, dah tahu orang marah, pandai pulak buat muka kiyutt gesel-gesel kat kaki orang. Mintak maaf la kot gamaknya.

Kita tak lama pun nak sedut oksigen bumi. Adik pun dah darjah 5. Pokok pun dah banyak kena tebang. Pluto pun dah keluar orbit. Marikh pun dah tukar arah putaran. Kuala Kangsar pun dah banjir.

What makes us think death is thousands miles away?

Think. And start to make a change.

Jangan buat taik, k?